Putri Mumpuni

Saya suka mencari cerita tentang passion, terutama yang memunculkan cerita yang inspiratif dan karya yang mengesankan.

Saya pertama mengenal Putri dari Pak William Wongso beberapa tahun yang lalu. Suatu hari dia cerita, “Han, aku baru kirim anak perempuan umur 23, cuma lulusan SMK, bahasa Inggrisnya nggak lancar-lancar amat, tapi dia berani aku kasih tanggung jawab jadi dosen masakan Indonesia di Stratford University di Amerika”.

Isn’t that amazing?

Tentu perlu lebih dari sekedar keberanian untuk bisa mengajar di jurusan culinary arts dari sebuah universitas ternama di US. Putri sendiri senewen setengah mati saat kesempatan itu datang. “Orang tua saya sendiri saja bilang, apa iya saya bisa ngajar masak di sana, wong dulu bikin nasi goreng saja keasinan” ujarnya.

Mungkin Putri merasa tidak terlalu percaya diri karena latar belakangnya yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tengkulak tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, dan ibunya hanya mengurus rumah namun kadang bekerja sebagai juru masak catering.

Selepas SMP, Putri yang ingin melihat kota yang lebih besar, memutuskan untuk mengambil sekolah menengah kejuruan perhotelan, dengan impian suatu hari bisa bekerja di luar negeri. Lulus dari SMK, setelah magang di hotel Hyatt Regency Yogyakarta sebagai cook-in-training, dia mencoba bekerja apa saja karena orang tuanya tidak punya uang untuk membiayai sekolahnya lebih lanjut. Putri mencoba beragam pekerjaan mulai dari SPG toko optik sampai jadi cook di food court mall yang tidak lama kemudian malah bangkrut. Namun dia menolak untuk menyerah.

Suatu hari, api gairah yang dijaganya mati-matian mulai menunjukkan jalan terang. Saat bekerja sebagai cook helper – sebuah posisi rendahan di dapur hotel berbintang – Putri mendapatkan kesempatan untuk bertanding dalam acara Top Chef di televisi. Dia merupakan peserta termuda dengan jabatan paling rendah dibandingkan dengan peserta lainnya yang banyak diisi level Executive Chef.

Di acara itu itu Putri masuk posisi 9 besar, dan kalah karena dia tidak bisa masak hidangan Indonesia. Chris Salans (Mozaic Bali) – salah satu juri di acara itu – menawarinya perkerjaan, namun dia memantapkan hati untuk belajar tentang masakan Indonesia.

Orang bilang saat murid siap, guru akan datang. Tak lama setelah kompetisi itu, Putri bertemu dengan William Wongso yang melihat potensinya. Pak William – guru kuliner Indonesia – yang tadinya berencana mengirim dia bekerja di Belanda di restoran milik kenalannya, akhirnya memutuskan untuk mendidik Putri secara langsung dan membawanya dalam berbagai acara demo masak hidangan Indonesia di berbagai negara seperti Jepang, Korea, Jerman, Filipina – dan pada saat mereka tour demo masak di sekolah kuliner top Amerika seperti CIA, J&W, dan ICC, kesempatan emas mengajar di Stratford datang.

—–

Gairah yang kuat dalam masakan Indonesia milik Putri saya rasakan sendiri pada saat pertama kali saya bekerja sama dengannya dalam sebuah acara wine dinner di Bandung. Dengan dibantu tidak lebih dari 4 orang commis dan cook, Putri mempersiapkan enam macam masakan Indonesia untuk dua ratusan tamu yang saya padukan dengan enam macam wine yang hasilnya sungguh istimewa. Tidak ada piring yang kembali ke dapur dengan sisa.

Dua hari penuh Putri mengerjakan tantangan itu. Dari pagi-pagi buta dia sudah mulai mempersiapkan mise en place sendirian, lalu mulai mengerjakan menu demi menu dengan telaten. Malamnya, pada saat MC memanggilnya ke panggung untuk menjelaskan masakan malam itu, saya melihat ada beberapa tensoplast di tangannya dan satu di wajahnya. “Kena ciptrat minyak panas, Pak. Yang di jari tadi kena grill” katanya dengan muka lempeng waktu saya tanya asal muasal plester-plester itu. “Dulu saat kerja di Aston saya malah pernah teledor mengoperasikan oven yang lalu meledak di depan muka saya. Semua alis dan bulu mata hilang” ujarnya.

—–

Passion mungkin adalah kata yang gampang sekali diucapkan siapapun. Pokoknya apapun yang bisa dikerjakan dengan hati riang akan diberi label passion. Do what you love, love what you do.

Tapi apa bedanya dengan hobby?

Kita semua tahu, passion yang sejati, yang dijaga kuat-kuat agar tidak padam meskipun kesulitan menghadang, selalu dibungkus oleh persistence, resilience, hard work, continuous learning, dan tidak jarang masih dibumbui dengan darah dan air mata.

Kita tahu passion tidak bisa dipinjam, tidak bisa dibeli, tidak datang dalam semalam, namun hasilnya selalu bisa ditebak; kesuksesan yang solid, langgeng, dan menginspirasi orang-orang disekitarnya.

Kami di Sababay sangat ingin mengangkat cerita tentang passionate people. Bagi kami, cerita-cerita tersebut selalu menghangatkan hati dan mengingatkan kami bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita melakukan sesuatu yang meaningful dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Putri – yang memiliki tatto namanya sendiri dalam aksara jawa di tangannya – akan berbagi passion-nya di acara Sang Saka Dinner di The Peak Resort Dining, Bandung, tanggal 23 Agustus 2017 jam 19:00. Jika Anda ingin mengikuti ceritanya di social media, Anda bisa mengunjungi Facebook dan Istagram Sababay Winery karena kami ingin Anda merasakan bagaimana Putri Mumpuni telah menginspirasi kami.

#We-INdonesia

Author: yohan handoyo

Wine Story Teller

Leave a Reply